Sabtu, 04 Juni 2016

My Twin is Albino



            Sudah lama aku tak berjumpa dengan dia, kembaranku. Kami memang tak sering bersama namun itu bukan masalah besar. Secara fisik kami sungguh identik tak ada yang meragukan itu. Hanya saja ada sebuah perbedaan yang memisahkan kami untuk selalu bersama. Saudaraku yang berbeda jenis kelamin denganku menderita albino sehingga ia menghabiskan banyak waktunya di sebuah kota sejuk yang sangat tinggi curah hujannya sedangkan aku sendiri menderita asma sehingga harus selalu berada di kota panas yang penuh terik mentari. Salah satu dari kami akan tersisksa jika bersama di sebuah kota tertentu.
            Saudaraku terlihat seperti kepiting rebus, ia memerah. Ini adalah pertanda buruk, panas mentari telah menyakitinya. Tapi ia seperti tak peduli itu, dengan senyuman khas ia segera menghampiriku dan memelukku. Ini adalah hal yang sangat kurindukan, kembali bersama seseorang yang dulu kala selalu menemaniku di dalam ruang sempit yang gelap. Ia melepaskan uv glassesnya dan mata biru yang teduh itu pun terlihat. Aku menyukai matanya, Ibu pernah bilang sewaktu kecil aku selalu menangis jika tidak melihat mata saudaraku sebelum tidur.
            Di sini ia selalu berbicara tentang pantai pasir putih yang berselimut ombak tenang. Ingin sekali ia melihatnya namun tempat itu terlalu panas untuknya sehingga aku selalu menolak. Aku tak tega melihatnya kesakitan hingga merintih terbakar matahari. Namun entah kenapa kali ini ada perasaan bersalah di hatiku saat mengatakan kata “tidak”. Ada guratan kesedihan di sudut terdalam senyumannya, aku tahu ia mencoba menyembunyikan kekecewaannya dariku. Sesuatu telah melukai hatinya apakah aku akan menambah rasa sakitnya? Aku pun memenuhi permintaannya dan wajah pucatnya tampak berseri-seri.
            Sepanjang perjalanan aku selalu merasa seperti selebritis jika berjalan dengan saudaraku ini. Tampilan fisik khas albinonya sangat menarik perhatian orang-orang di sekitar dan wajah tampannya menjadi unik dengan kulit dan rambut pucat. Tak sedikit orang mengagumi ketampanannya. Tak sampai di sana mata-mata akan terus mengawasi kami hingga lenyap dari pandangan mereka karena kemiripan kami yang luar biasa untuk kembar yang beda jenis kelamin.
            Terkadang menjadi pusat perhatian itu menyenangkan karena tak perlu mengenalkan diri semua orang yang melihat langsung mengenali kami. Namun keadaan ini menjadi beban tersendiri karena ruang gerak kami menjadi terbatas. 

Kembarkah?

Tatapan panjang lurus ke depan, dua tangan menopang dagu bulatnya, begitulah kira-kira gaya Melin saat termenung menemani Rasso yang penuh dekil baluran oli mobil tua yang terlihat pantas untuh menghuni salah satu museum barang antik di negara ini. Entah terpesona atau sedang berpikir keras atas pemandangan di depannya, Melin tetap tak bergeming saat hujan mulai jatuh berguguran dari langit di depan garasi. Akhirnya sebuah kain lap yang sedikit hitam mengejutkannya dan membuatnya naik pitam dengan senyuman lebar. Mereka berdua terlibat perang kain lap untuk beberapa saat.
Tak jauh dari itu seseorang mengamati mereka, ia berwajah masam. Tatapannya tajam menukik pada wanita yang selama ini selalu di dekatnya. Tapi hari ini telah menjadi untuk kesekian kalinya wanita itu meninggalkannya dan pergi bersama pria yang berwajah sama dengannya. Mungkinkah kekurangannyalah yang membuat ini terjadi? Kalimat ini selalu ia pertanyakan pada seonggok hati yang masih tersisa di dirinya. Suara mesin penghasil oksigen terdengar sayup di dekatnya. Ia menunduk dan menggerakkan tuas kursi rodanya menjauh meninggalkan kebahagiaan mereka.
Setiap kali tawa Melin pecah, gigi gingsulnya akan langsung menggoda perhatian Rasso. Adakah wanita lebih menarik dari ini? Rasso selalu mengaguminya tapi itu cukup di hati saja, ia tak bernyali untuk mencoba keberuntungannya. Saingannya terasa berat, Fegi sang kembaran yang baru saja ditemukan sudah cukup membuatnya pusing. Melin seakan mengganggapnya pria yang berwajah sama dengan orang yang selalu dipujinya. Ia mencoba menutup wajah Rasso dengan bayangan Fegi. Bukannya persaingan itu lantas menimbulkan rasa benci, bukan! Tapi ini sulit, Rasso ingin bersama Fegi dan ingin mendapatkan Melin. Rakus memang tapi itulah keinginan.
Getaran ponsel di tangan Fegi kembali terasa, Ah Dani ini! Gumamnya. Malas sekali rasanya menemuni editor sekaligus sahabat itu di kantornya. Ada pengalaman tidak mengenakkan dulu, ia harus menunggu sekian jam di lantai dasar karena tidak ada lift dan bagian resepsionis yang terkesan mengabaikannya. Sulit menjadi orang cacat saat itu. Perasaan kecewa kala itu harusnya tak perlu lagi diingatnya, Dani sudah menepati kantor baru dengan karyawan yang berbeda. Mungkin saja semua sudah lebih baik, Fegi mencoba meyakinkan dirinya. Tak ada yang lebih baik selain berpikir positif menapaki hari-hari sulitnya.
Ternyata memang jauh lebih baik kantor baru ini, di depan saja seorang security menyapanya dengan ramah tepat sebelum pintu otomatis terbuka. Dua orang wanita di meja resepsionis sengaja berdiri untuk dapat berkomunikasi dengannya di balik meja yang tinggi. Fegi melepaskan kegaluannya dan tersenyum. Sedikit rumit penjelasan wanita itu tentang lokasi ruangan Dani, sampai-sampai ia mengerutkan kening mencoba mencernanya. Mengapa begitu sulit memetakan lokasi dengan kata-kata, hampir-hampir saja Fegi menyerah dan hanya mengandalkan insting sampai seorang wanita yang baru saja berdiri di sana menghampirinya.
“mas mau ke ruangan Pak Dani ya? Mari saya antar, saya juga mau ke sana”, tawar wanita itu. Ia sengaja sedikit jongkok untuk memposisikan dirinya sejajar saat berbicara dengan Fegi.
“serius mbak? Merepotkan nanti” Fegi meyakinkan.
“iya mas, ayo” ia mengambil langkah awal menuntun Fegi.

Top Secret: Angga --> adegan hospital*


             Santi duduk di samping Angga yang tumben sekali hari ini tak memakai kacamata sejak tadi pagi. Tangannya masih dijejali jarum yang mengalirkan pasokan makanan cairnya. Wajahnya masih lemah namun ia tidak terlihat menyedihkan. Senyuman lebar sering terlihat mengembang berlayar menuju pandangan Santi.
            Sepanjang malam Santi telah berualang kali memikirkan kata-kata yang tepat untuk bertanya siang itu namun lidahnya kelu saat ingin memulainya. Waktu pun berlalu dengan kesunyian. Meskipun dengan pandangan yang blur Angga bisa merasakan kegundahan di wajah Santi yang menutupi kecantikannya.
            “ada sesuatu yang salah San?” tanya Angga memulai percakapan.
            “hmm? Gak ada kok.” Santi tertawa aneh dan mengaruk saku celananya mengalihkan pandangan Angga yang tak sanggup ditatapnya.
            “bukankah aku pacarmu sekarang, kamu masih menganggapku orang lain?” Angga mencoba cara lain.
            Tersentak jantung Santi mendengarnya dan ia langsung menatap Angga yang sedang memandangi langit-langit kamar RS yang terlihat cukup bersih itu.
            “ya, kamu benar, itulah yang menjadi masalahnya sekarang. Aku itu pacar kamu tapi tak ada satupun dari kesibukanmu yang ku tahu. Kamu tak terbuka padaku, aku bodoh tepat seperti yang dia bilang.” Kata-kata yang terdengar bukan seperti yang telah disusunnya malah yang keluar mengejutkan Angga.
            Sungguh kuat kata-kata itu mempengaruhi Angga, ia tak sanggup menatap Santi. Terasa air menetes di tangannya yang terpasang infus. Ia segera mengalihkan pada Santi yang telah menutup wajah tanpa mengeluarkan sedikit suara pun.
            Angga mencoba menggapai tangan Santi yang masih terjuntai, ia genggam erat.
            “maafkan aku San, kamu benar aku salah.” Angga berhenti sejenak, mengambil jeda untuk memantapkan suara yang mulai sedikit serak.
            “ada banyak hal yang belum ku ceritakan padamu, tapi percayalah tak ada sedikitpun niat di hatiku untuk menutup diri.” Suaranya terdengar sedikit tercekik karena menahan rasa bersalah di dadanya.
            “aku hanya belum terbiasa terbuka pada orang lain sebelum ini San, tolong mengertilah.” Dia goyangnkan tangannya untuk meyakinkan Santi.
            “aku gak ingin kamu kenapa-napa Angga, aku gak punya siapa-siapa di dunia ini. Cuma kamu yang ku punya dan aku ingin menjagamu.” Santi menyeka air mata yang masih terus mengalir dan ia mulai terisak-isak dalam tangisannya.
            Terasa ada gemuruh besar menghantam jantung Angga saat kata-kata Santi terlontar melintas di telinganya. Jauh dari yang ia duga besar rasa yang dimiliki Santi padanya, berat beban yang dipikulnya hingga saat ini dalam kesendiriannya menapaki dunia. Harusnya ia berhenti melukai hati wanita yang telah penuh sayatan kenangan pilu ini.
            “maafkan aku San, maafkan aku.” Angga tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Air matanya pun pecah mengalir perlahan.
            Santi menyadari itu dan segera menyekanya dan membelai kening Angga ia menggelengkan kepala sambil terus menangis dan tersenyum.
            “aku sudah memaafkanmu Angga, jangan menangis malaikatku, jangan menangis...” Santi menciumi tangan Angga yang masih menggenggamnya.
            Dalam hati Angga berjanji pada dirinya bahwa sedikitpun tak akan menyakiti hati bidadari cantiknya itu.  Setelah Santi berhenti menangis, Angga pun mulai menceritakan tentang segala hal yang selama ini belum diceritakannya termasuk kesibukan dan pengalaman-pengalamannya.

Topeng Dante


      Seorang pria tua menengadahkan kedua tangannya pada seorang pria tinggi yang tersenyum bak malaikat. Terlihat ia mengaruk saku jaket dan mengeluarkan selebar kertas terlipat, sayang itu bukan uang. Pengemis lusuh itu memungutnya dan membaca, ia tertawa tanpa suara memandangi pria yang telah lama berlalu di tengah kesunyian jalanan dingin hari itu. Ia mulai membenahi kain-kain tempat bernaungnya dan mengikatkan dalam sebuah sarung, itu pun dipikulnya. Berjalan luntang-lantung sudah menjadi pandangan yang biasa baginya terhadap semua orang yang memandang. Satu lagi belokan di tikungan itu, ia pun akan sampai ditujuannya yang baru saja ditentukan takdir baginya.
      Tanpa menoleh seseorang yang memegang kaleng soda tampak memunggungi tamunya.Beberapa langkah lagi sebelum mendekat ia pun akhirnya menoleh dan menatap tajam sambil menyentuh pelipisnya seperti biasa ketika ia memulai sebuah rencana. Pengemis itu pun membuka baju lusuhnya dan baju kaos hijau tua angkatan menegaskan kebenaran jati dirinya. Wajah tua itu pun berlalu seiring jalannya yang tegap dan serius.