Sudah lama aku tak berjumpa dengan dia,
kembaranku. Kami memang tak sering bersama namun itu bukan masalah besar.
Secara fisik kami sungguh identik tak ada yang meragukan itu. Hanya saja ada
sebuah perbedaan yang memisahkan kami untuk selalu bersama. Saudaraku yang
berbeda jenis kelamin denganku menderita albino sehingga ia menghabiskan banyak
waktunya di sebuah kota sejuk yang sangat tinggi curah hujannya sedangkan aku
sendiri menderita asma sehingga harus selalu berada di kota panas yang penuh
terik mentari. Salah satu dari kami akan tersisksa jika bersama di sebuah kota
tertentu.
Saudaraku terlihat seperti kepiting rebus, ia memerah.
Ini adalah pertanda buruk, panas mentari telah menyakitinya. Tapi ia seperti
tak peduli itu, dengan senyuman khas ia segera menghampiriku dan memelukku. Ini
adalah hal yang sangat kurindukan, kembali bersama seseorang yang dulu kala
selalu menemaniku di dalam ruang sempit yang gelap. Ia melepaskan uv glassesnya
dan mata biru yang teduh itu pun terlihat. Aku menyukai matanya, Ibu pernah
bilang sewaktu kecil aku selalu menangis jika tidak melihat mata saudaraku
sebelum tidur.
Di sini ia selalu berbicara tentang pantai pasir putih
yang berselimut ombak tenang. Ingin sekali ia melihatnya namun tempat itu
terlalu panas untuknya sehingga aku selalu menolak. Aku tak tega melihatnya
kesakitan hingga merintih terbakar matahari. Namun entah kenapa kali ini ada
perasaan bersalah di hatiku saat mengatakan kata “tidak”. Ada guratan kesedihan
di sudut terdalam senyumannya, aku tahu ia mencoba menyembunyikan kekecewaannya
dariku. Sesuatu telah melukai hatinya apakah aku akan menambah rasa sakitnya?
Aku pun memenuhi permintaannya dan wajah pucatnya tampak berseri-seri.
Sepanjang perjalanan aku selalu merasa seperti selebritis
jika berjalan dengan saudaraku ini. Tampilan fisik khas albinonya sangat
menarik perhatian orang-orang di sekitar dan wajah tampannya menjadi unik dengan
kulit dan rambut pucat. Tak sedikit orang mengagumi ketampanannya. Tak sampai
di sana mata-mata akan terus mengawasi kami hingga lenyap dari pandangan mereka
karena kemiripan kami yang luar biasa untuk kembar yang beda jenis kelamin.
Terkadang menjadi pusat perhatian itu menyenangkan karena
tak perlu mengenalkan diri semua orang yang melihat langsung mengenali kami.
Namun keadaan ini menjadi beban tersendiri karena ruang gerak kami menjadi
terbatas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar