Sabtu, 04 Juni 2016

Top Secret: Angga --> adegan hospital*


             Santi duduk di samping Angga yang tumben sekali hari ini tak memakai kacamata sejak tadi pagi. Tangannya masih dijejali jarum yang mengalirkan pasokan makanan cairnya. Wajahnya masih lemah namun ia tidak terlihat menyedihkan. Senyuman lebar sering terlihat mengembang berlayar menuju pandangan Santi.
            Sepanjang malam Santi telah berualang kali memikirkan kata-kata yang tepat untuk bertanya siang itu namun lidahnya kelu saat ingin memulainya. Waktu pun berlalu dengan kesunyian. Meskipun dengan pandangan yang blur Angga bisa merasakan kegundahan di wajah Santi yang menutupi kecantikannya.
            “ada sesuatu yang salah San?” tanya Angga memulai percakapan.
            “hmm? Gak ada kok.” Santi tertawa aneh dan mengaruk saku celananya mengalihkan pandangan Angga yang tak sanggup ditatapnya.
            “bukankah aku pacarmu sekarang, kamu masih menganggapku orang lain?” Angga mencoba cara lain.
            Tersentak jantung Santi mendengarnya dan ia langsung menatap Angga yang sedang memandangi langit-langit kamar RS yang terlihat cukup bersih itu.
            “ya, kamu benar, itulah yang menjadi masalahnya sekarang. Aku itu pacar kamu tapi tak ada satupun dari kesibukanmu yang ku tahu. Kamu tak terbuka padaku, aku bodoh tepat seperti yang dia bilang.” Kata-kata yang terdengar bukan seperti yang telah disusunnya malah yang keluar mengejutkan Angga.
            Sungguh kuat kata-kata itu mempengaruhi Angga, ia tak sanggup menatap Santi. Terasa air menetes di tangannya yang terpasang infus. Ia segera mengalihkan pada Santi yang telah menutup wajah tanpa mengeluarkan sedikit suara pun.
            Angga mencoba menggapai tangan Santi yang masih terjuntai, ia genggam erat.
            “maafkan aku San, kamu benar aku salah.” Angga berhenti sejenak, mengambil jeda untuk memantapkan suara yang mulai sedikit serak.
            “ada banyak hal yang belum ku ceritakan padamu, tapi percayalah tak ada sedikitpun niat di hatiku untuk menutup diri.” Suaranya terdengar sedikit tercekik karena menahan rasa bersalah di dadanya.
            “aku hanya belum terbiasa terbuka pada orang lain sebelum ini San, tolong mengertilah.” Dia goyangnkan tangannya untuk meyakinkan Santi.
            “aku gak ingin kamu kenapa-napa Angga, aku gak punya siapa-siapa di dunia ini. Cuma kamu yang ku punya dan aku ingin menjagamu.” Santi menyeka air mata yang masih terus mengalir dan ia mulai terisak-isak dalam tangisannya.
            Terasa ada gemuruh besar menghantam jantung Angga saat kata-kata Santi terlontar melintas di telinganya. Jauh dari yang ia duga besar rasa yang dimiliki Santi padanya, berat beban yang dipikulnya hingga saat ini dalam kesendiriannya menapaki dunia. Harusnya ia berhenti melukai hati wanita yang telah penuh sayatan kenangan pilu ini.
            “maafkan aku San, maafkan aku.” Angga tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Air matanya pun pecah mengalir perlahan.
            Santi menyadari itu dan segera menyekanya dan membelai kening Angga ia menggelengkan kepala sambil terus menangis dan tersenyum.
            “aku sudah memaafkanmu Angga, jangan menangis malaikatku, jangan menangis...” Santi menciumi tangan Angga yang masih menggenggamnya.
            Dalam hati Angga berjanji pada dirinya bahwa sedikitpun tak akan menyakiti hati bidadari cantiknya itu.  Setelah Santi berhenti menangis, Angga pun mulai menceritakan tentang segala hal yang selama ini belum diceritakannya termasuk kesibukan dan pengalaman-pengalamannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar