Santi duduk di samping
Angga yang tumben sekali hari ini tak memakai kacamata sejak tadi pagi.
Tangannya masih dijejali jarum yang mengalirkan pasokan makanan cairnya.
Wajahnya masih lemah namun ia tidak terlihat menyedihkan. Senyuman lebar sering
terlihat mengembang berlayar menuju pandangan Santi.
Sepanjang malam Santi telah berualang kali memikirkan
kata-kata yang tepat untuk bertanya siang itu namun lidahnya kelu saat ingin
memulainya. Waktu pun berlalu dengan kesunyian. Meskipun dengan pandangan yang
blur Angga bisa merasakan kegundahan di wajah Santi yang menutupi
kecantikannya.
“ada sesuatu yang salah San?” tanya Angga memulai
percakapan.
“hmm? Gak ada kok.” Santi tertawa aneh dan mengaruk saku
celananya mengalihkan pandangan Angga yang tak sanggup ditatapnya.
“bukankah aku pacarmu sekarang, kamu masih menganggapku
orang lain?” Angga mencoba cara lain.
Tersentak jantung Santi mendengarnya dan ia langsung
menatap Angga yang sedang memandangi langit-langit kamar RS yang terlihat cukup
bersih itu.
“ya, kamu benar, itulah yang menjadi masalahnya sekarang.
Aku itu pacar kamu tapi tak ada satupun dari kesibukanmu yang ku tahu. Kamu tak
terbuka padaku, aku bodoh tepat seperti yang dia bilang.” Kata-kata yang
terdengar bukan seperti yang telah disusunnya malah yang keluar mengejutkan
Angga.
Sungguh kuat kata-kata itu mempengaruhi Angga, ia tak
sanggup menatap Santi. Terasa air menetes di tangannya yang terpasang infus. Ia
segera mengalihkan pada Santi yang telah menutup wajah tanpa mengeluarkan
sedikit suara pun.
Angga mencoba menggapai tangan Santi yang masih
terjuntai, ia genggam erat.
“maafkan aku San, kamu benar aku salah.” Angga berhenti
sejenak, mengambil jeda untuk memantapkan suara yang mulai sedikit serak.
“ada banyak hal yang belum ku ceritakan padamu, tapi
percayalah tak ada sedikitpun niat di hatiku untuk menutup diri.” Suaranya
terdengar sedikit tercekik karena menahan rasa bersalah di dadanya.
“aku hanya belum terbiasa terbuka pada orang lain sebelum
ini San, tolong mengertilah.” Dia goyangnkan tangannya untuk meyakinkan Santi.
“aku gak ingin kamu kenapa-napa Angga, aku gak punya
siapa-siapa di dunia ini. Cuma kamu yang ku punya dan aku ingin menjagamu.”
Santi menyeka air mata yang masih terus mengalir dan ia mulai terisak-isak
dalam tangisannya.
Terasa ada gemuruh besar menghantam jantung Angga saat
kata-kata Santi terlontar melintas di telinganya. Jauh dari yang ia duga besar
rasa yang dimiliki Santi padanya, berat beban yang dipikulnya hingga saat ini
dalam kesendiriannya menapaki dunia. Harusnya ia berhenti melukai hati wanita
yang telah penuh sayatan kenangan pilu ini.
“maafkan aku San, maafkan aku.” Angga tak sanggup
melanjutkan kata-katanya. Air matanya pun pecah mengalir perlahan.
Santi menyadari itu dan segera menyekanya dan membelai
kening Angga ia menggelengkan kepala sambil terus menangis dan tersenyum.
“aku sudah memaafkanmu Angga, jangan menangis malaikatku,
jangan menangis...” Santi menciumi tangan Angga yang masih menggenggamnya.
Dalam hati Angga berjanji pada dirinya bahwa sedikitpun
tak akan menyakiti hati bidadari cantiknya itu.
Setelah Santi berhenti menangis, Angga pun mulai menceritakan tentang
segala hal yang selama ini belum diceritakannya termasuk kesibukan dan pengalaman-pengalamannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar