Tatapan panjang lurus ke depan, dua tangan menopang dagu bulatnya,
begitulah kira-kira gaya Melin saat termenung menemani Rasso yang penuh dekil
baluran oli mobil tua yang terlihat pantas untuh menghuni salah satu museum
barang antik di negara ini. Entah terpesona atau sedang berpikir keras atas
pemandangan di depannya, Melin tetap tak bergeming saat hujan mulai jatuh
berguguran dari langit di depan garasi. Akhirnya sebuah kain lap yang sedikit
hitam mengejutkannya dan membuatnya naik pitam dengan senyuman lebar. Mereka
berdua terlibat perang kain lap untuk beberapa saat.
Tak jauh dari itu seseorang mengamati mereka, ia berwajah masam. Tatapannya
tajam menukik pada wanita yang selama ini selalu di dekatnya. Tapi hari ini
telah menjadi untuk kesekian kalinya wanita itu meninggalkannya dan pergi
bersama pria yang berwajah sama dengannya. Mungkinkah kekurangannyalah yang
membuat ini terjadi? Kalimat ini selalu ia pertanyakan pada seonggok hati yang
masih tersisa di dirinya. Suara mesin penghasil oksigen terdengar sayup di
dekatnya. Ia menunduk dan menggerakkan tuas kursi rodanya menjauh meninggalkan
kebahagiaan mereka.
Setiap kali tawa Melin pecah, gigi gingsulnya akan langsung menggoda
perhatian Rasso. Adakah wanita lebih menarik dari ini? Rasso selalu
mengaguminya tapi itu cukup di hati saja, ia tak bernyali untuk mencoba
keberuntungannya. Saingannya terasa berat, Fegi sang kembaran yang baru saja
ditemukan sudah cukup membuatnya pusing. Melin seakan mengganggapnya pria yang
berwajah sama dengan orang yang selalu dipujinya. Ia mencoba menutup wajah
Rasso dengan bayangan Fegi. Bukannya persaingan itu lantas menimbulkan rasa
benci, bukan! Tapi ini sulit, Rasso ingin bersama Fegi dan ingin mendapatkan
Melin. Rakus memang tapi itulah keinginan.
Getaran ponsel di tangan Fegi kembali terasa, Ah Dani ini! Gumamnya. Malas
sekali rasanya menemuni editor sekaligus sahabat itu di kantornya. Ada
pengalaman tidak mengenakkan dulu, ia harus menunggu sekian jam di lantai dasar
karena tidak ada lift dan bagian resepsionis yang terkesan mengabaikannya.
Sulit menjadi orang cacat saat itu. Perasaan kecewa kala itu harusnya tak perlu
lagi diingatnya, Dani sudah menepati kantor baru dengan karyawan yang berbeda.
Mungkin saja semua sudah lebih baik, Fegi mencoba meyakinkan dirinya. Tak ada
yang lebih baik selain berpikir positif menapaki hari-hari sulitnya.
Ternyata memang jauh lebih baik kantor baru ini, di depan saja seorang
security menyapanya dengan ramah tepat sebelum pintu otomatis terbuka. Dua
orang wanita di meja resepsionis sengaja berdiri untuk dapat berkomunikasi
dengannya di balik meja yang tinggi. Fegi melepaskan kegaluannya dan tersenyum.
Sedikit rumit penjelasan wanita itu tentang lokasi ruangan Dani, sampai-sampai
ia mengerutkan kening mencoba mencernanya. Mengapa begitu sulit memetakan
lokasi dengan kata-kata, hampir-hampir saja Fegi menyerah dan hanya
mengandalkan insting sampai seorang wanita yang baru saja berdiri di sana
menghampirinya.
“mas mau ke ruangan Pak Dani ya? Mari saya antar, saya juga mau ke sana”,
tawar wanita itu. Ia sengaja sedikit jongkok untuk memposisikan dirinya sejajar
saat berbicara dengan Fegi.
“serius mbak? Merepotkan nanti” Fegi meyakinkan.
“iya mas, ayo” ia
mengambil langkah awal menuntun Fegi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar