Sabtu, 04 Juni 2016

Kembarkah?

Tatapan panjang lurus ke depan, dua tangan menopang dagu bulatnya, begitulah kira-kira gaya Melin saat termenung menemani Rasso yang penuh dekil baluran oli mobil tua yang terlihat pantas untuh menghuni salah satu museum barang antik di negara ini. Entah terpesona atau sedang berpikir keras atas pemandangan di depannya, Melin tetap tak bergeming saat hujan mulai jatuh berguguran dari langit di depan garasi. Akhirnya sebuah kain lap yang sedikit hitam mengejutkannya dan membuatnya naik pitam dengan senyuman lebar. Mereka berdua terlibat perang kain lap untuk beberapa saat.
Tak jauh dari itu seseorang mengamati mereka, ia berwajah masam. Tatapannya tajam menukik pada wanita yang selama ini selalu di dekatnya. Tapi hari ini telah menjadi untuk kesekian kalinya wanita itu meninggalkannya dan pergi bersama pria yang berwajah sama dengannya. Mungkinkah kekurangannyalah yang membuat ini terjadi? Kalimat ini selalu ia pertanyakan pada seonggok hati yang masih tersisa di dirinya. Suara mesin penghasil oksigen terdengar sayup di dekatnya. Ia menunduk dan menggerakkan tuas kursi rodanya menjauh meninggalkan kebahagiaan mereka.
Setiap kali tawa Melin pecah, gigi gingsulnya akan langsung menggoda perhatian Rasso. Adakah wanita lebih menarik dari ini? Rasso selalu mengaguminya tapi itu cukup di hati saja, ia tak bernyali untuk mencoba keberuntungannya. Saingannya terasa berat, Fegi sang kembaran yang baru saja ditemukan sudah cukup membuatnya pusing. Melin seakan mengganggapnya pria yang berwajah sama dengan orang yang selalu dipujinya. Ia mencoba menutup wajah Rasso dengan bayangan Fegi. Bukannya persaingan itu lantas menimbulkan rasa benci, bukan! Tapi ini sulit, Rasso ingin bersama Fegi dan ingin mendapatkan Melin. Rakus memang tapi itulah keinginan.
Getaran ponsel di tangan Fegi kembali terasa, Ah Dani ini! Gumamnya. Malas sekali rasanya menemuni editor sekaligus sahabat itu di kantornya. Ada pengalaman tidak mengenakkan dulu, ia harus menunggu sekian jam di lantai dasar karena tidak ada lift dan bagian resepsionis yang terkesan mengabaikannya. Sulit menjadi orang cacat saat itu. Perasaan kecewa kala itu harusnya tak perlu lagi diingatnya, Dani sudah menepati kantor baru dengan karyawan yang berbeda. Mungkin saja semua sudah lebih baik, Fegi mencoba meyakinkan dirinya. Tak ada yang lebih baik selain berpikir positif menapaki hari-hari sulitnya.
Ternyata memang jauh lebih baik kantor baru ini, di depan saja seorang security menyapanya dengan ramah tepat sebelum pintu otomatis terbuka. Dua orang wanita di meja resepsionis sengaja berdiri untuk dapat berkomunikasi dengannya di balik meja yang tinggi. Fegi melepaskan kegaluannya dan tersenyum. Sedikit rumit penjelasan wanita itu tentang lokasi ruangan Dani, sampai-sampai ia mengerutkan kening mencoba mencernanya. Mengapa begitu sulit memetakan lokasi dengan kata-kata, hampir-hampir saja Fegi menyerah dan hanya mengandalkan insting sampai seorang wanita yang baru saja berdiri di sana menghampirinya.
“mas mau ke ruangan Pak Dani ya? Mari saya antar, saya juga mau ke sana”, tawar wanita itu. Ia sengaja sedikit jongkok untuk memposisikan dirinya sejajar saat berbicara dengan Fegi.
“serius mbak? Merepotkan nanti” Fegi meyakinkan.
“iya mas, ayo” ia mengambil langkah awal menuntun Fegi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar